Rabu, 21 Maret 2012

APRESIASI CERPEN JANGAN MAIN-MAIN (DENGAN KELAMINMU) KARYA DJENAR MAESA AYU



 KARYA 
MIMIN MINTARI
2222090200
 DIKSARTASIA 3A


Kehidupan saat ini memang memaksa kita bekerja banting tulang untuk bisa tetap hidup. Contohnya dalam kehidupam di metropolitan, jika kita hanya hidup dari belaskasihan orang lain saja, mungkin kita akan jadi gelandangan disana. Tetapi banyak orang dari kampung berboyong-boyong malah ingin pergi ke Jakarta, mereka pikir jika tinggal di Jakarta maka mereka akan mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan uang banyak. Tetapi pandangan itu salah, jika kita tidak hati-hati mengenal mana orang baik, mana orang jahat, maka kita akan diajak dalam kehidupan yang suram, yaitu mereka akan mempekerjakan kita sebagai PSK (Pekerja Seks Komersilal). Dan apa boleh buat, kehidupan ekonomi yang sangat pelik yang memaksa kita menerima pekerjaan haram itu. Dengan pekerjaan sebagai PSK, banyak orang yang memandang bahwa pekerjaan seperti itu harus dimusnahkan. Kebanyakan wanita yang bekerja sebagai seks komersial mengaku bahwa ia bekerja seperti itu karena tuntutan agar bisa hidup dan masalah ekonomi keluarga akan tertuntaskan.
Maka Satu kata yang tepat untuk mengomentari cerpen-cerpen karya Djenar Maesa Ayu, wanita kelahiran Jakarta, 14 Januari 1973 adalah kata-katanya yang berani dan membuat yang membacanya mungkin bisa langsung berpikir bahwa cerpen-cerpen dia itu termasuk cerpen yang “jorok” bahkan “menjijikkan”. Karena hal itu sering kali penulis perempuan itu dimaki-maki sekaligus dicintai banyak orang. Cerpen-cerpennya sudah tersebar di media massa Indonesia seperti Kompas, Republika, majalah Cosmopolitan, Lampung Post, majalah Djakarta. Cerpennya yang berjudul Menyusu Ayah menjadi cerpen terbaik 2002 versi Jurnal Perempuan dan diterbitkan oleh Richard Oh kedalam bahasa Inggris dengan judul Suckling Father untuk dimuat kembali dalam Jurnal Perempuan dalam bahasa Inggris, edisi kolaborasi karya terbaik Jurnal Perempuan.
Hampir semua tulisan Djenar menyingkap sisi kehidupan yang ditabukan oleh masyarakat kita. Jika pembaca yang baru mengenalnya akan terusik akan kata-kata yang ditulis Djenar, bisa jadi mereka yang membaca akan merasa tertampar oleh cerpen-cerpen yang disajikannya dengan gaya pengucapan eksperimental dan inovatif. Tetapi kita sebagai pembaca harus melihat dari sisi positifnya saja bahwa dibalik semua kata-kata dalam cerpen Djenar MaesaAyu ini memiliki nilai-nilai moral yang sangat baik. Dalam Kumpulan Cerpen Jangan Main-Main(Dengan Kelaminmu), penulis juga membuka tabir yang terjadi disekitarnya, seperti kehidupan para pekerja seks komersial, cerpen tentang pandangan orang terhadap pekerja seks tersebut, suami yang selingkuh karena tidak puas dengan “layanan” istrinya, dan ada pula dampak yang terjadi jika kita menjadi pekerja seks komersial.
Pada cerpen Jangan Main-Main(Dengan Kelaminmu) penulis menggunakan gaya penulisan bahasa yang berulang-ulang, sehingga pembaca harus benar-banar memahami kata-katanya supaya pembaca mendapatkan makna dari cerpen tersebut. Dalam cerpen ini penulis menampilkan berbagai adegan secara ‘buka-bukaan’ untuk mengomentari tentang penyimpangan perilaku, kesemuan hidup di metropolitan. Dalam struktur penceritaannya, cerpen ini menceritakan tentang hubungan yang bersilang  antara tokoh suami, istri, pacar gelap, dan sahabat suami.
Moral merupakan pegangan atau sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap individu. Tetapi tidak halnya dalam cerpen Moral karya Djenar Maesa Ayu. Penulis malah menganggap bahwa moral itu diperolok dan memandang moral seperti barang dagangan yang diobral dengan harga lima ribu rupiah tiga! Dalam cerpen ini, penulis menganggap bahwa moral tidak ada harganya dalam setiap individu, moral bisa dibeli dimana saja dengan harga yang sangat murah meriah.
Dalam cerpen Menyusu Ayah dan Payudara Nai-Nai memiliki kesamaan cerita, yaitu jika dalam cerpen Menyusu Ayah, tokoh Nayla yang sejak lahir ia ditinggalkan oleh ibunya saat melahirkan Nayla. Sejak kecil hingga ia beranjak besar, Nayla tidak pernah sama sekali merasakan susu ASI langsung dari ibunya, tetapi sejak kecil ia malah menyusu dari air mani ayahnya sendiri. Dengan keadaannya seperti itu, maka teman-teman lelakinya tidak ada yang mau mendekati Nayla. Karena mereka takut jika Nayla akan menyedot air mani mereka seperti yang dilakukan Nayla terhadap ayahnya, bahkan terhadap teman-teman ayahnya. Sedangkan dalam cerpen Payudara Nai-Nai ini menceritakan jika kita lihat dalam bahasa, Nai-Nai itu artinya Payudara. Tokoh Nai-Nai ini dilahirkan dalam keluarga yang sederhana, ia hidup tana seorang ibu, entah dimana keberadaan ibunya itu karena penulis tidak menceritakan lebih dalam tentang ibu Nai-Nai. Seperti cerpen Menyusu Ayah, Nai-Nai pun tinggal berdua dengan ayahnya.
Singkat cerita antara cerpen Menyusu Ayah dan Payudara Nai-Nai memberikan pengetahuan kepada kita bahwa betapa pentingnya bimbingan seorang ibu dalam membentuk prilaku kita dan betapa pentingnya keutuhan dalam hidup berumah tangga.       
Pada cerpen yang akan saya apresiasi, yaitu cerpen Mandi Sabun Mandi, penulis menempatkan seorang laki-laki setengah baya, berperut tambun dan perempuan muda berparas indo, berkulit putih  teman kencannya yang bernama Sophie sebagai tokohnya. Bukan itu saja, dalam cerpen ini penulis menempatkan dimana meja dan cermin dalam kamar hotel itu menjadi saksi bisu pengkhianatan bersilang lelaki dan pacar gelapnya itu.
Cerpen ini lebih tepatnya adalah menceritakan bahwa sebuah kamar motel yang mewah, yang disewa hanya oleh para pengusaha yang memiliki uang banyak saja yang bisa menempati kamar ini. Dengan setting tempat di sebuah hotel dan waktu siang hari. Seperti yang sudah dijelaskan tadi bahwa cermin dan meja adalah saksi bisu antara hubungan gelap antara laki-laki setengah baya dengan seorang perempuan, pacar gelapnya itu. Penulis menggambarkan dalam cerpen ini bahwa cermin dan meja adalah mahluk hidup yang bisa menyaksikan dengan ’mata telanjang’ bagaimana pasangan yang bukan suami itu melakukan hubungan suami istri yang seharusnya tidak layak untuk dilakukan.
Setelah mereka melakukan hubungan intim, laki-laki itu langsung bergegas kekamar mandi. Sophie, sang pacar gelap mengomentari sewaktu Si Mas mandi tanpa memakai sabun mandi. Dan wanita itu pun bertanya mengapa Si Mas tidak memakai sabun. Singkat cerita, lelaki itu pulang kerumah dengan gaya pakaian kusut seolah-olah dia memang seharian bekerja di kantor. Kemudian sang istri merogoh kantong celana suaminya dan ia menemukan sebuah benda kecil keras di dalam kantong yang bertuliskan, Soap-Bukit Indah, Bar and Restaurant. Ternyata pacar gelapnya itu memasukkan sabun mandi hotel kedalam kantong celana lelaki setengah baya itu.
Dalam kesimpulannya, penulis ingin memberitahukan bahwa betapa licik dan rapuhnya dalam sebuah hubungan gelap seperti itu.
Cerpen lain yang ingin saya apresiasi adalah cerpen Penthouse 2601. dambaan akan kehidupan normal dan kebahagiaan keluarga yang lengkap terdapat pada cerpen Penthouse 2601 karya Djenar ini. Sebagai tokoh bisu dalam cerita yaitu sebuah kamar mewah yang merasa kesepian dalam kemewahan semu, karena ia hanyalah tempat hiburan bagi orang-orang berduit dan yang menyewa kamar ini pun mirip seperti para pejabat yang sering muncul di televisi. Jauh dari bayangan sebelumnya, yaitu ia ingin kamarnya dihuni oleh keluarga bahagia atau pasangan suami istri yang ingin berbulan madu. Tetapi kenyataan itu musnah sudah, kamar yang sangat mewah itu malah dicemari oleh para tamu yang berlaku seronok. Dengan menggunakan alur maju dan setting tempat di sebuah hotel mewah lantai dua puluh enam, penulis pun menggunakan kata-kata yang pedas dari yang biasanya, seperti kalimat “kelakuan mereka benar-benar seperti binatang, bahkan lebih rendah dari binatang”. Dalam kamar itu seorang lelaki dan perempuan, yang merupakan kekasih gelap itu melakukan hubungan suami istri dan tidak selayaknya kita tiru.
Singkat cerita, penulis memberikan nilai moral yang ingin dia beritahukan kepada semua orang bahwa zaman sekarang dari hotel yang biasa sampai hotel berbintang mewah sekalipun bisa dengan mudahnya disewa oleh pasangan yang bukan muhrimnya tanpa adanya aturan dari pemilik hotel saat orang-orang akan menyewa kamar.  Hal itu membuat ‘gerah’ kamar tersebut. Dan kamar itu seolah-olah bisa bicara dan berharap, “bahwa suatu saat ia akan membeberkan kejadian yang tak lazim itu  diketahui banyak orang, ditubuhku, Penthouse 2601”.
Nilai moral yang saya dapat dari cerpen Mandi Sabun Mandi dan Penthouse 2601 adalah bahwa jika kita menjalin suatu hubungan suami istri sebaiknya disertai dengan rasa cinta dan kasih sayang, supaya pasangan kita tidak berpaling kepada wanita lain dan ternyata rasa saling percaya dalam suatu hubungan itu sangat mahal harganya.
Menurut saya, kumpulan cerpen karya Djenar Maesa Ayu ini harus ditingkatkan lagi dalam pemilihan kata-katanya tetapi kita sebagai pembaca harus melihat dari sisi positifnya supaya pembaca semangat untuk membacanya dan tidak jenuh, seperti membaca cerpen yang menggunakan kata-kata yang baku. Kumpulan cerpen karya Djenar Maesa Ayu ini isinya menceritakan secara gamblang kehidupan yang ada dimasyarakat, contohnya bahwa betapa pentingnya menjaga kesucian kita sebagai wanita.   
Sukses selalu untuk Djenar Maesa Ayu. Dan harapan saya, terus menciptakan karya-karya yang lebih baik dan lebih bagus lagi.    

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar